Minggu, 02 Mei 2010

Menuju Keluarga Sakinah

EMPAT PILIHAN MENUJU KEMULIAAN HIDUP

Pada dasarnya kemuliaan atau kebahagiaan hidup seseorang terpulang kepada diri mereka sendiri. Allah dan Rosul-Nya telah menunjukkan jalan agar manusia dapat memperoleh kemuliaan atau kebahagiaan hidup, tentunya tidak hanya di dunia saja, melainkan di dunia dan akhirat.
Memang banyak jalan untuk mencapainya, akan tetapi banyak pula rintangan. Mudah bagi orang yang sungguh-sungguh dan beriman, akan tetapi berat bagi orang yang tidak sungguh-sungguh dan tipis imannya.
Pada kenyataannya, tak mudah meraih memuliaan. Berbagai jalan telah dicoba, segala cara pun telah ditempuh, namun ternyata tidak sedikit kita saksikan hamba Allah di kalangan umat ini bahkan terperosok berpacu dengan nafsu yang melampaui batas. Maka bila kita perhatikan , tipologi kehidupan di dunia tak akan lepas dari empat situasi :
Pertama, hidup Bahagia di Dunia, Tapi sengsara di Akhirat
Mereka hidup berkecukupan di dunia atau mungkin hidup bergelimang harta dan kehormatan, akan tetapi kebahagiaannya sebenarnya semu dan tidak abadi, sebuah akhir kehidupan sengasara. Lihatlah bagaimana kisah sang Hartawan Qorun, hidup sepertinya tak akan kekurangan materi sampai ‘tujuh-turunan’ , akan tetapi ternyata apa yang terjadi, di akhir hidupnya Qorun tak sempat mewariskan hartanya, bumi telah menelannya bersama seluruh apa yang dimilikinya.
Demikian halnya hidup para koruptor, kekayaan materi, kehormatan, jabatan serta seluruh fasilitas yang dinikmati ,yang telah diperjuangkan siang dan malam, tak peduli harus “sikat kanan-sikat kiri’’, tak pedulikan sesuatu itu diperoleh dengan cara yang halal atau haram, yang terpenting terpuaskan dan terpenuhi kebutuhannya. Akibatnya timbullah berbagai kecurangan, penindasan, penipuan dan penyalahgunaan hak.
Inilah fenomena zaman, sebagaimana diingatkan oleh Rasulullah SAW:’Akan datang suatu masa kepada manusia, dimana pada masa itu seseorang tidak lagi memperdulikan apa yang diambilnya, apakah dari yang halal atau dari yang haram’. (HR.Bukhari dan Nasa’I dari Abu Hurairah)
Lihatlah di akhir episode kekidupan mereka di dunia ini, kejayaan yang diperoleh di masa tugasnya pun sirna dan tinggallah kesengsaraan di akhir kehidupannya. Apalagi di akhirat nanti, mereka harus mempertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Sementara hingga ajal datang, taubat pun belum sempat dilakukan. Naudzubillahi min dzalik.
Kedua, Hidup Sengsara di Dunia, Bahagia Di akhirat
Kehidupan di dunia ini tak akan mungkin dipenuhi oleh orang kecukupan dan bahagia semuanya. Dari sekian banyak umat ini tidak sedikit mereka yang hidup “pas-pasan’ atau bahkan orang umum menyebutkan sengsara. Rumah sangat sederhana atau bahkan hanya mampu ngontrak, sekedar berteduh dari sengatan panas mentari, perabot rumah ala kadarnya, mungkin hanya ada karpet sebagai alas. Soal makan seadanya bisa jadi lebih banyak puasa sunnat, senin-kamis. Pendek kata ini gambaran para faqir- miskin , tapi mereka bahagia, mereka merasa tidak miskin hatinya. Berjuang dengan apa yang dikaruniakan oleh Allah SWT, dengan tetesan keringatnya untuk mencari yang halal, menghidupi keluarganya, serta untuk menjaga harga diri dan kehormatannya.
Lihatlah Rosulullah SAW, para sahabat serta para sholihin, beliau tidak sedikit yang hidup dalam kemiskinan. Dalam kemiskinannya tak membuatnya melupakan Allah SWT; dalam kekurangannya tak membuatnya melalaikan ibadah kepada-Nya. Bahkan mereka sangat bersyukur, hari ke hari dijalani dengan sabar dan ikhlas hingga ajal menjemputnya, ia pun tersungging senyum kegembiraan, Allah SWT memberinya husnul khotimah insya Allah.
Ketiga, Hidup Sengsara di Dunia dan Sengsara di Akhirat
Ini tipologi hidup dari anak manusia yang sungguh sengsara. Hidup miskin, rumah tak punya, banyak utang ‘ngemplang sana-ngemplang sini, digusur sana-sini. Kendatipun tak punya, gaya hidup dan angan-angan seperti orang yang tak miskin. Kalau ada sedikit rizki, bukan untuk ditabung, akan tetapi ia gunakan untuk maksiat (judi, minum miras,dll). “Molimo (Madat, main, madon, minum, maling)”, dan sebagainya , segala atribut kemaksiatan pun dijalaninya. Pendek kata kefaqiran atau kemiskinannya tidak membuatnya sadar dan dekat kepada Sang Pencipta, tetapi justru semakin menjauh dari ibadah kepada Allah SWT.
Di episode akhir kehidupan di dunia, mereka mati tanpa pusara , tanpa nama dan tanpa penghormatan. Sengsara di dunia , apalagi di akhirat akan lebih sengsara. Naudzubillahi min dzalik
Keempat, Hidup Bahagia di Dunia dan Bahagia di akhirat
Ini tipologi kehidupan orang yang bahagia, hidup “enak-kepenak, tentrem ayem”. Hidup kecukupan, kendatipun hidup sederhana. Kekayaan atau hartanya tidak membuatnya melalaikan kuwajibannya; untuk mensukseskan tugas-tugasnya sebagai hamba Allah, menjalin silaturahmi dan menunaikan hak-haknya Allah SWT.
Alhamdulillah, ia dikaruniai Allah istri / suami yang sholeh/sholehah; anak-anak yang berbakti, ekonomi yang mapan dan berkah, serta berada di lingkungan yang sholih. Lengkaplah sudah kebahagiannya, kendatipun demikian ia menyadari bahwa hartanya atau apapun yang ia miliki adalah modal untuk ibadah, meraih keridhoan Allah, maka ia nafkahkan di jalan Allah. Allah SWT berfirman : “…Dan apa saja harta yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-Baqarah 272)
Akhirnya pada akhir episode kehidupan, ia meninggalkan dunia yang fana ini, dengan membawa nama yang baik, amal sholih yang dengan ikhlas telah diperjuangkannya menghantarkan ia menghadap sang Khaliq dengan tenang, tersungging senyuman “husnul khotimah”. Akhir perjalanan hidup yang baik. Harta tak dibawanya, tapi iman dan amal sholeh yang mengantarnya menuju kehidupan yang abadi.
Demikian tadi tipologi kehidupan dunia yang beraneka-ragam, banyak pilihan sesuai dengan situasinya masing-masing. Agama telah mengajarkan pilihan mana yang terbaik sebagaimana Allah SWT berfirman : “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari (kenikmatan) duniawi..” (QS.Al Qashash 77). Sekarang pilihannya tergantung kepada kita, untuk menentukan pilihan yang terbaik. Semoga Allah SWT memberikan taufiq, hidayah serta inayahnya kepada kita dalam mengarungi bahtera kehidupan ini.
(K. Prie/ Depkes, Magelang/ Apr’2010)

MENUJU KELUARGA SAKINAH


RESEP UNTUK HIDUP BAHAGIA
Oleh : Akhmad Kuspriyanto

ESENSI dan tujuan hidup orang memang boleh beda .Ada sebagian orang mengangap bahwa hidup bahagia serba ada ,serba mewah dan serba kecukupan; punya kendaraan, punya rumah bagus, perabot lengkap, dsb. Akibatnya mereka harus berupaya mati-matian untuk meraih semuanya itu, walaupun tidak sedikit yang gagal mewujudkanya. Akhirnya kita hanya bisa bilang: “Gagal maning… gagal maning!”
Sementara itu sebagian yang lain meyakini bahwa pendapat demikian belumlah cukup meskipun dengan kesederhanaan orang dapat hidup bahagia karena kebahagiaan pada hakekatnya bukanlah dari orang lain tetapi dari dalam diri sendiri. Maka, ada benarnya sebuah ungkapan yang pernah dikutip penulis buku zen path to harmony.’’if you want to be happy,just be’’. Bila ingin berbahagia , berbahagialah!
Berikut ada resep murah yang bisa dilaksanakan, agar hidup kita bahagia di dunia dan akhirat, tapi ada syaratnya harus istiqomah yang antara lain sebagai berikut:

Pertama, jadilah orang yang tekun beragama
Dalam pandangan islam, masalah agama menjadi suatu fitrah (sesuatu yang yang melekat pada diri manusia dan terbawa sejak kelahirannya) Sebagaimana Alloh SWT berfirman dalam QS. Al-Rum :30 “Fitrah Alloh yang menciptakan manusia atas fitrah itu”. Ini berarti manusia tidak mungkin melepaskan diri dari agama. Maka dengan kata lain kalau kita mau bahagia juga harus tekun beragama.
Dengan agama maka akan menumbuhkan keindahan, melahirkan energi, memacu semangat pengorbanan. Oleh karenanya banyak orang miskin hidupnya sederhana, tempat di rumah sangat sederhana, dengan perabot-perabot ala kadarnya tapi kaya hatinya- merasa hidup bahagia. Demikian pula sebaliknya tanpa didasari pemahaman agama yang baik tidak sedikit orang kaya akan tetapi miskin hatinya, hidupnya gersang bagaikan ilalang tumbuh di padang yang gersang. Oleh karena itu, agama Islam mengajarkan kita bagaimana seharusnya menjalani hidup dan kehidupan ini.
Ada salah satu syair arab “man ‘arooda ayyathlubassa’aadata fiimaa ladaihi fathlubil ‘iktidaala fiimaa yaliihi” barang siapa yang menghendaki bahagia di dalam apa yang dihadapinya, maka carilah jalan sederhana di dalam apa yang ada padanya.
Persoalanya ternyata agama bukan menjadi sebuah kebutuhan kita. Faktanya ketika orang serba cukup, enjoy, “adem-ayem”, kita sering lupa mengingat Allah. Akan tetapi manakala sedang dihimpit masalah sehingga sudah tidak ada pilihan lain , nah… ini dia , “ya Alloh tolonglah hambamu ini yang dhoif”, kita pun berjam-jam iktikaf di masjidnya Allah.
Inilah profil seorang hamba kebanyakan, yang sangat mendamba hidup bahagia di dunia dan bahagia di akhirat. Rasanya malu kita, sehari-hari kita cuekin itu ibadah. Perintah-perintah-Nya belum tentu kita tunaikan, demikian pula larangan serta aturannya sering kita langgar pun tiada terlintas dosa dan penyesalan kita. Tiba-tiba kita datang menghiba, minta tolong kepadaNya, tanpa basa-basi dan etika minta segera dikabulkan. Segera? Ya, segera, seperti kebiasaan kita kalau sedang butuh. Astaghfirullah! Ya, Alloh, ampunilah hambamu ini.
Tapi Allah SWT , ya rohman, yaa rohiim ya ghofur Alloh yang menggenggam alam semesta ini, Dia yang Maha pengampun, selebar dunia ini akan membuka pintu maafnya untuk hambanya. Maka datanglah, segera sambut kesempatan yang ada sebelum terlambat.

Kedua, memahami tujuan hidup
Orang hendaknya memahami target perjalanan hidupnya. Setidaknya ada dua hal yang perlu ditanyakan, pertama, bagaimana kita mengenal diri kita sendiri. Kedua, bagaimana kita mengenal Tuhan Pencipta alam semesta ini.
Cukup rumit memang kalau kita hanya hengandalkan akal kita, karena akal hanya mampu menimbang yang bersifat materi.
Dalam konteks demikian ada yang mengelompokkan dua kategori yakni terlihat seperti benda, molekul, atom partikel dan tak terlihat meliputi quanta , energi vibrasi. Demikian pula yang berkaitan dengan pikiran dan perasaan kita yang merupakan ranah tak terlihat, yang lebih menarik justru pada “yang tak terlihat” itu tersimpan kebahagiaan kita yang bersifat hakiki.
Ternyata akal kita merasa berat untuk menimbang yang bersifat ghoib tersebut. juga seperti misterinya kematian , rizki dan jodoh manusia. Oleh karena itu, inilah menjadi ranah agama, ketika akal kita tidak mampu lagi menjawab secara pasti persoalan-persoalan hidup yang dihadapinya.
Ketika janin di dalam kandungan Alloh SWT sebenarnya telah menetapkan seseorang empat perkara ; Menetapkan rezkinya, ketetapan ajalnya, ketetapan amalnya, serta menjadi orang yang celaka atau bahagia.
Firman Allah SWT : “Wa maa kholaqtuljinna wal insa illaa liyakbuduun, yang artinya Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melaikan mereka supaya menyembah-Ku.” (Q.S. Adz-Dzariyaat: 56)
Bila kita cermati ayat tadi secara harfiah, Allah SWT sebenarnya telah memberikan kesempatan yang sangat luas kepada kita untuk menjadikan segala aktivitas hidup dan persoalan ini menjadi bernilai ibadah di sisi-Nya. Rosulullah SAW pernah bersabda yang artinya :”dunia adalah sawah ladangnya akhirat”.

Ketiga, Realistis
Ada yang mengatakan lebih baik makan dengan ketela dalam kenyataan, daripada makan roti tapi dalam angan-angan. Orang yang banyak keinginannya tidak ubahnya seprti orang yang bermimpi , ketika tersadar dari mimpi , bisa jadi kita akan kecewa karena tidak menemukannya dalam kenyataan. Kita memang hidup di alam kenyataan. Maka seorang Pedongeng Yunani Aesop mengatakan Don’t count your chickens before they are hatched (jangan hitung anak ayam anda sebelum menetas).Mengandung maksud agar kita berhati-hati dalam segala sesuatu, untuk tidak memastikan sesuatu yang belum pasti terjadi.

Akan lebih baik bila dilakukan penyelarasan antara kebutuhan, keinginan dan kemampuan secara proporsional. Orang jawa bilang “jangan lebih besar pasak dari pada tiang”.
Maka menentukan sebuah ukuran (parameter) kebutuhan pun diperlukan prioritas, tingkat urgensinya (mendesak atau tidak), keperluannya, maksud/tujuannya bahkan manfaatnya.

Keempat, semangat berusaha
Hidup bahagia adalah kehidupan yang dinamis. Maka dengan semangat berusaha tersebut akan melahirkan sebuah harapan hidup. Maka berupaya sungguh-sungguh . Berupaya dengan dilandasi tekad yang kuat. Terus berupaya, pantang mundur. Suatu saat nanti dengan jerih payah kita, pasti akan menuai keberhasilan. Seorang Penghipnotis kondang namanya Marshal Silfer menyarankan “hiduplah setiap hari meskipun hari itu hari yang terakhir”.

Kelima, hidup sederhana.
Hidup sederhana adalah hidupnya orang yang qona’ah. Qona’ah artinya ridho (senang) dengan sedikitnya pemberian dari Alloh. Ia sudah merasa cukup, bukan lantaran pasrah/ menyerah terhadap takdir, melainkan karena telah berupaya menyempurnakan usaha.
Banyak diantara kita yang baru sekali mencoba , sudah menyerah. Coba lagi dong dan dicoba lagi. Maka Dr. Hamka seorang pakar Filsafat modern mengatakan bahwa qonaah adalah menerima cukup, yang mengandung lima perkara:
• Menerima dengan rela apa yang ada
• Memohonkan kepada tuhan tambahan yang pantas dan beruisaha
• Menerima dengan sabar akan ketentuan Alloh
• Bertaqwalah kepada tuhan
• Tidak tertarik oleh tipu daya dunia

Keenam, bersyukur
Kata “syukur” menurut kamus bahasa Indonesia, diartikan rasa terima kasih kepada Allah. Menurut sebagian ‘ulama berasal dari kata kasyara yang berarti membuka atau menampakkan nikmat. Sedangkan lawan kata syukur adalah kafara atau kufur yang artinya menutup atau melupakan nikmat Allah SWT.
Allah SWT berfirman “Jika kamu bersyukur pasti akan Ku-tambah nikmatKU untukmu, dan bila kamu kufur, maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih” (Q.S. Surat Ibrahim: 14).
Persoalannya, kadang kita banyak yang kurang bersyukur. Sudah memiliki satu, ingin dua , sudah punya dua ingin yang lain begitu seterusnya tiada akan berhenti sebelum maut menjemput kita. Sehingga Nabi pernah mengingatkan :”Bukanlah kaya itu karena banyaknya harta melainkan kaya yang sesungguhnya ialah kaya jiwa”.
Menurut Imam Al Ghazali, hakikat syukur mencakup tiga hal yaitu:
- ilmu tentang syukur yskni dengsn menyadari bahwa kenikmatan yang kita terima ini semata-mata dari Allah SWT
- Keadaan syukur, yakni dengan menyatakan kegembiraan karena memperoleh nikmat tsb;
- Amalan / perbuatan syukur, yakni dengan menggunakan nikmat tsb sebaik-baiknya sesuai tujuan yang memberi kenikmatan tsb.
Kalau kita dapat senantiasa mensyukuri setiap nikmat yang dikaruniakan Allah SWT kepada kita, sebagaimana janji Allah , maka pasti nikmat/ kebahagiaan itu akan ditambah dengan sendirinya.
Ketujuh, bersabar
Hampir pisa dipastikan bahwa semua orang pernah merasa susah, sedih, kecewa baik ringan ataupun berat , baik urusan pribadi maupun urusan dengan orang lain. Penyebabnya pun bermacam-macam. Ada yang sulit mendapatkan pekerjaan, ada yang frustasi karena masalah keluarga dan sebagainya. Pendek kata, hidup ini tak bisa lepas dari cobaan dan ujian, yang sewaktu-waktu bisa menimpa setiap orang.
Maka menghadapi problematika kehidupan ini hendaknya dengan penuh kesabaran. Tak akan pernah ada kebahagiaan tanpa perjuangan dan tak pernah ada perjuangan tanpa kesabaran. Oleh karena itu, mencari solusi untuk lepas dari kesulitan, bukanlah dengan lari atau menghindar dari kesulitan, akan tetapi menghadapi dan mengatasinya secara bijak, tenang dan tawakkal.

*) Perum Depkes, Magelang

MENUJU KELUARGA SAKINAH

EMPAT PILIHAN MENUJU KEMULIAAN HIDUP

Pada dasarnya kemuliaan atau kebahagiaan hidup seseorang terpulang kepada diri mereka sendiri. Allah dan Rosul-Nya telah menunjukkan jalan agar manusia dapat memperoleh kemuliaan atau kebahagiaan hidup, tentunya tidak hanya di dunia saja, melainkan di dunia dan akhirat.
Memang banyak jalan untuk mencapainya, akan tetapi banyak pula rintangan. Mudah bagi orang yang sungguh-sungguh dan beriman, akan tetapi berat bagi orang yang tidak sungguh-sungguh dan tipis imannya.
Pada kenyataannya, tak mudah meraih memuliaan. Berbagai jalan telah dicoba, segala cara pun telah ditempuh, namun ternyata tidak sedikit kita saksikan hamba Allah di kalangan umat ini bahkan terperosok berpacu dengan nafsu yang melampaui batas. Maka bila kita perhatikan , tipologi kehidupan di dunia tak akan lepas dari empat situasi :
Pertama, hidup Bahagia di Dunia, Tapi sengsara di Akhirat
Mereka hidup berkecukupan di dunia atau mungkin hidup bergelimang harta dan kehormatan, akan tetapi kebahagiaannya sebenarnya semu dan tidak abadi, sebuah akhir kehidupan sengasara. Lihatlah bagaimana kisah sang Hartawan Qorun, hidup sepertinya tak akan kekurangan materi sampai ‘tujuh-turunan’ , akan tetapi ternyata apa yang terjadi, di akhir hidupnya Qorun tak sempat mewariskan hartanya, bumi telah menelannya bersama seluruh apa yang dimilikinya.
Demikian halnya hidup para koruptor, kekayaan materi, kehormatan, jabatan serta seluruh fasilitas yang dinikmati ,yang telah diperjuangkan siang dan malam, tak peduli harus “sikat kanan-sikat kiri’’, tak pedulikan sesuatu itu diperoleh dengan cara yang halal atau haram, yang terpenting terpuaskan dan terpenuhi kebutuhannya. Akibatnya timbullah berbagai kecurangan, penindasan, penipuan dan penyalahgunaan hak.
Inilah fenomena zaman, sebagaimana diingatkan oleh Rasulullah SAW:’Akan datang suatu masa kepada manusia, dimana pada masa itu seseorang tidak lagi memperdulikan apa yang diambilnya, apakah dari yang halal atau dari yang haram’. (HR.Bukhari dan Nasa’I dari Abu Hurairah)
Lihatlah di akhir episode kekidupan mereka di dunia ini, kejayaan yang diperoleh di masa tugasnya pun sirna dan tinggallah kesengsaraan di akhir kehidupannya. Apalagi di akhirat nanti, mereka harus mempertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Sementara hingga ajal datang, taubat pun belum sempat dilakukan. Naudzubillahi min dzalik.
Kedua, Hidup Sengsara di Dunia, Bahagia Di akhirat
Kehidupan di dunia ini tak akan mungkin dipenuhi oleh orang kecukupan dan bahagia semuanya. Dari sekian banyak umat ini tidak sedikit mereka yang hidup “pas-pasan’ atau bahkan orang umum menyebutkan sengsara. Rumah sangat sederhana atau bahkan hanya mampu ngontrak, sekedar berteduh dari sengatan panas mentari, perabot rumah ala kadarnya, mungkin hanya ada karpet sebagai alas. Soal makan seadanya bisa jadi lebih banyak puasa sunnat, senin-kamis. Pendek kata ini gambaran para faqir- miskin , tapi mereka bahagia, mereka merasa tidak miskin hatinya. Berjuang dengan apa yang dikaruniakan oleh Allah SWT, dengan tetesan keringatnya untuk mencari yang halal, menghidupi keluarganya, serta untuk menjaga harga diri dan kehormatannya.
Lihatlah Rosulullah SAW, para sahabat serta para sholihin, beliau tidak sedikit yang hidup dalam kemiskinan. Dalam kemiskinannya tak membuatnya melupakan Allah SWT; dalam kekurangannya tak membuatnya melalaikan ibadah kepada-Nya. Bahkan mereka sangat bersyukur, hari ke hari dijalani dengan sabar dan ikhlas hingga ajal menjemputnya, ia pun tersungging senyum kegembiraan, Allah SWT memberinya husnul khotimah insya Allah.
Ketiga, Hidup Sengsara di Dunia dan Sengsara di Akhirat
Ini tipologi hidup dari anak manusia yang sungguh sengsara. Hidup miskin, rumah tak punya, banyak utang ‘ngemplang sana-ngemplang sini, digusur sana-sini. Kendatipun tak punya, gaya hidup dan angan-angan seperti orang yang tak miskin. Kalau ada sedikit rizki, bukan untuk ditabung, akan tetapi ia gunakan untuk maksiat (judi, minum miras,dll). “Molimo (Madat, main, madon, minum, maling)”, dan sebagainya , segala atribut kemaksiatan pun dijalaninya. Pendek kata kefaqiran atau kemiskinannya tidak membuatnya sadar dan dekat kepada Sang Pencipta, tetapi justru semakin menjauh dari ibadah kepada Allah SWT.
Di episode akhir kehidupan di dunia, mereka mati tanpa pusara , tanpa nama dan tanpa penghormatan. Sengsara di dunia , apalagi di akhirat akan lebih sengsara. Naudzubillahi min dzalik
Keempat, Hidup Bahagia di Dunia dan Bahagia di akhirat
Ini tipologi kehidupan orang yang bahagia, hidup “enak-kepenak, tentrem ayem”. Hidup kecukupan, kendatipun hidup sederhana. Kekayaan atau hartanya tidak membuatnya melalaikan kuwajibannya; untuk mensukseskan tugas-tugasnya sebagai hamba Allah, menjalin silaturahmi dan menunaikan hak-haknya Allah SWT.
Alhamdulillah, ia dikaruniai Allah istri / suami yang sholeh/sholehah; anak-anak yang berbakti, ekonomi yang mapan dan berkah, serta berada di lingkungan yang sholih. Lengkaplah sudah kebahagiannya, kendatipun demikian ia menyadari bahwa hartanya atau apapun yang ia miliki adalah modal untuk ibadah, meraih keridhoan Allah, maka ia nafkahkan di jalan Allah. Allah SWT berfirman : “…Dan apa saja harta yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-Baqarah 272)
Akhirnya pada akhir episode kehidupan, ia meninggalkan dunia yang fana ini, dengan membawa nama yang baik, amal sholih yang dengan ikhlas telah diperjuangkannya menghantarkan ia menghadap sang Khaliq dengan tenang, tersungging senyuman “husnul khotimah”. Akhir perjalanan hidup yang baik. Harta tak dibawanya, tapi iman dan amal sholeh yang mengantarnya menuju kehidupan yang abadi.
Demikian tadi tipologi kehidupan dunia yang beraneka-ragam, banyak pilihan sesuai dengan situasinya masing-masing. Agama telah mengajarkan pilihan mana yang terbaik sebagaimana Allah SWT berfirman : “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari (kenikmatan) duniawi..” (QS.Al Qashash 77). Sekarang pilihannya tergantung kepada kita, untuk menentukan pilihan yang terbaik. Semoga Allah SWT memberikan taufiq, hidayah serta inayahnya kepada kita dalam mengarungi bahtera kehidupan ini.
(K. Prie/ Depkes, Magelang/ Apr’2010)